“Pertanian adalah soal hidup atau mati…”

“Aku bertanja kepadamu: sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, mala-petaka, dalam waktu jang dekat kalau soal makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan rakjat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati, kenapa dari kalangan-kalanganmu? Kenapa buat tahun 1951/1952 jang mendaftarkan diri sebagai mahasiswa fakultet pertanian hanja 120 orang, dan bagi fakultet kedokteran chewan hanya 7 orang? Tidak, pemuda-pemudiku, studie ilmu pertanian dan ilmu perchewanan tidak kurang penting dari studie lain-lain, tidak kurang memuaskan djiwa yang bertjita-tjita dan pada studie jang lain-lain. Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak “tjampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner,kita akan mengalami malapetaka!”

(Pidato Presiden RI Soekarno pada peresmian Kampus IPB Baranangsiang, 1952)

Nama saya Nurmawan Rosyid Ridha. Saya adalah bungsu dari tiga bersaudara. Berasal dari keluarga sederhana, saya tumbuh dan besar di sebuah kabupaten kecil di ujung barat propinsi Jawa Timur. Daerah saya adalah daerah agraris, hampir sebagian masyarakatnya  menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Sejatinya memang tak banyak yang saya ketahui tentang dunia pertanian, bahkan tidak pernah sedikitpun terbersit keinginan untuk berkecimpung di dunia pertanian. Namun justru dari sinilah langkah besar dalam hidup saya dimulai.

Tepatnya hari-hari saya duduk di bangku SMA, saya mulai dihadapkan pada dilemma kemanakah saya akan melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah nanti. Dilihat dari minat dan bakat, rasa-rasanya tak banyak pilihan yang bisa saya ambil. Saya hobi menggambar, kata teman dan keluarga gambaran saya lumayan bagus. Untuk itu saya berkeinginan untuk menjadi seorang arsitek. Awalnya satu Perguruan Tinggi Negeri yang memilki jurusan arsitek terbaik menjadi bidikan utama saya. Namun lagi-lagi saya dihadapkan pada suatu fakta yang pelan tapi pasti kembali memudarkan tekad saya itu.

Sekedar ulasan, bahwasanya kampung halaman saya tidaklah besar. Terdiri dari 18 kecamatan tersebar di kawasan kaki gunung Lawu  yang berbatasan langsung dengan Kab. Karanganyar, Kab. Ponorogo, Kab. Madiun, dan Kab. Ngawi. Harusnya pertanian kami maju, logikanya udara di kota saya ini sejuk dengan rimbunan pohon dan taman yang indah. Dan tentunya hal itu mudah dicapai karena tanah kami subur. Tapi tidak, pertanian di kota saya terpuruk. Banyak teman yang merupakan anak-anak petani mengeluhkan sawah, ladang, dan hasil panen mereka. Banyak orangtua dengan mata pencaharian petani terpaksa tak mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga pendidikan timggi. Udara yang dulu sangat sejuk kini menjadi panas. Jalan-jalan tak lagi teduh oleh pohon perdu, taman kota terkesan panas dan tak lagi nyaman untuk bermain, dan parahnya lagi sawah-sawah kota kami banyak disulap menjadi perumahan-perumahan.

Kali ini nurani saya bergolak. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tengah melanda kota saya ini? Jika di kota kecil ini saja kondisi pertanian dan pertamanan berantakan (menurut versi saya), lalu bagaimana di kota-kota lain yang lebih maju dan berkembang? Saya termenung dan mulai memutar haluan. Saya ingin menjadi pribadi yang walaupun masih dalam skala kecil berperan terhadap sebuah perubahan. Bahasa kerennya “Revolusi Pertanian Dan Pertamanan” Kabupaten Magetan. Caranya? Saya harus menjadi bagian dari penentu kebijakan. Menjadi sumberdaya manusia yang berpotensi di bidang yang ingin saya rubah. Naïf mungkin, tapi setidaknya itu menjadi harapan kecil dari seorang calon mahasiswa dari kota Magetan seperti saya.

Saya tidak menentukan sendiri. Saya membahas dan membicarakan semua itu dengan keluarga dan sahabat. Dan saya mulai mencari tempat kuliah dengan mutu terbaik namun mampu mengakomodir semua keinginan saya yaitu ber-basic pertanian, pertamanan, tata kota namun masih erat kaitannya dengan minat dan bakat saya sebagai arsitek. Setelah proses perdebatan yang agak panjang, maka jatuhlah pilihan saya pada Institut Pertanian Bogor, Departemen Arsitektur Lansekap. Saya bersyukur karena pilihan ini mendapat dukungan penuh dari keluarga. Dan akhirnya, melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Undangan kini saya resmi diterima menjadi Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia ini. Perguruan Tinggi terbaik, dengan fasilitas, input dan output yang baik pula.

Banyak mimpi saya gantung di atas langit IPB, mimpi menjadi insan yang bertakwa, berilmu pengetahuan, berwawasan  luas, berdaya saing, ber-basic ilmu pertanian, dengan tetap menekuni hobi saya serta menggapai cita-cita sebagai arsitek. Berbekal doa dari orang tua dan seluruh keluarga, langkah pertama saya serasa begitu nikmat di kota hujan. Bertambah sudah kini doa saya pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, semoga disini saya bisa menuntut ilmu dengan baik, lulus tepat waktu dan pada waktu yang tepat. Semoga nantinya, saya menjadi pribadi yang bukan cuma menonton, namun turut berkarya membangun tata kota dan pertamanan dalam skala kecil serta pertanian dalam skala luas. Semoga saya bisa mengabdi dan membangun pertanian di Magetan, Indonesia, dan Dunia. Aamiin.

FAPERTA
IPB Badge IPB Badge
Calendar
February 2015
S M T W T F S
« Oct    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728